Berita Terbaru, Kabar Terkini Harian Indonesia - Asikku

Asikku merupakan kumpulan berita berita akuran seputaran indonesia , yang terbaru dan tercepat.

Responsive Ads Here
Tampilkan postingan dengan label prabowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prabowo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2021

2 Jenderal Garis Depan Ungkap Kelemahan TNI Kepada Prabowo

 

2 Jenderal Garis Depan Ungkap Kelemahan TNI Kepada Prabowo

Beberapa bulan sebelum Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto Djojohadikusumo dilantik menjadi Menteri Keamanan Republik Indonesia (Menhan RI), sejumlah pensiunan perwira tinggi (Pati) TNI dan Polri sempat berdiskusi dengannya. Salah satu yang hadir dalam diskusi itu adalah dua jenderal bintang empat Tentara Nasional Indonesia (TNI).


Melalui pantauan VIVA Militer dari akun Youtube, pertemuan tersebut dilaksanakan pada April 2019. Selain Tedjo yang merupakan mantan Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia (KSAL), juga hadir mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI. , Letjen (Purn.) Johannes Suryo Prabowo dan Marsekal TNI (Purn.) Imam Su Manfaat, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Udara (KSAU).

2 Jenderal Garis Depan Ungkap Kelemahan TNI Kepada Prabowo

Dalam kesempatan tersebut, Tedjo dan Imam membeberkan sejumlah data mengenai postur kekuatan TNI AL dan TNI AU. Bagian yang paling menarik dari pembahasan tentunya adalah kekuatan kedua dimensi itu dari segi alutsista.


Imam yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara menjelaskan postur kekuatan TNI AU saat ini. Dalam keterangannya, Imam mengungkapkan bahwa TNI AU masih kekurangan skuadron tempur.


Sementara itu, menurut Imam, untuk memaksimalkan kekuatan dalam mengamankan kedaulatan negara secara keseluruhan, TNI AU diharapkan mampu mencapai supremasi udara dan superioritas udara.


Selain itu, Imam juga menjelaskan betapa pentingnya memiliki pesawat berteknologi tinggi, seperti drone, untuk menghadapi potensi konflik besar maupun kecil.


“Sebenarnya untuk TNI AU yang kita butuhkan adalah beberapa kekuatan yang menjadi ciri khas TNI AU. Kita harus punya alutsista yang bisa menjadikan kita kekuatan yang mengarah pada Air Supremacy atau Air Superiority. Jadi kita butuh pesawat tempur yang ada. mampu membuat kami mencapai superioritas udara, "kata Imam.


"Kedua, kita harus memiliki pesawat yang digunakan untuk serangan udara, atau untuk menghancurkan target di darat. Ketiga, kita harus memiliki pesawat yang memiliki mobilitas udara. Agar kita dapat memenangkan konflik kelas atas dan konflik tingkat rendah, Kita butuh pesawat berteknologi tinggi seperti drone di sampingnya. radar airborne, "ujarnya.


Alangkah terkejutnya, Imam mengungkapkan bahwa saat ini TNI AU hanya memiliki tujuh skuadron pesawat tempur. Namun jika berbicara alutsista yang mampu meraih keunggulan kekuatan udara, TNI AU hanya memiliki tiga skuadron yang terdiri dari F-16 Fighting Falcon, Sukhoi Su-27 dan Sukhoi Su-30.


“Ibarat pesawat tempur, (kita harus) punya minimal 11 skuadron tempur. Sekarang kita lihat semua pesawat tempur hanya tujuh skuadron. Tapi untuk superioritas udara kita hanya punya tiga skuadron, F-16 dan Sukhoi,” lanjut Imam. togel online


Yang tak kalah penting menurut Imam adalah jumlah radar yang saat ini hanya dimiliki 19 unit TNI AU. Sedangkan dengan luas hingga 2 juta kilometer persegi, TNI Angkatan Udara membutuhkan sedikitnya 32 unit radar.


“Ibarat radar, kita bisa mempertahankan kedaulatan kita kalau radar kita bisa menutupi semuanya. Saat ini yang kita butuhkan minimal 32 radar. Itu bisa mencakup semuanya dengan catatan terintegrasi dengan radar sipil,” kata KSAU tahun 2009 kepada Periode 2012.


“Namun sejak lima tahun terakhir radar baru ada 19, tidak ada penambahan lagi. Jadi sebenarnya kita masih banyak blank spot. Jadi radar kurang,” ujarnya.


Bukan hanya TNI AU saja yang membutuhkan tambahan kekuatan berupa alutsista. Tedjo yang pernah menjabat sebagai KSAL dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) ini juga mengungkapkan sejumlah kekurangan yang dimiliki TNI AL.


Tedjo mengatakan saat ini TNI AL hanya memiliki lima unit kapal selam. Namun, menurut Tedjo, untuk memaksimalkan peran TNI AL dalam melindungi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR) dibutuhkan setidaknya 16 unit kapal selam.


Perlu dicatat, saat ini TNI AL memiliki lima kapal selam tempur. Di kelas Nagapasa terdapat tiga kapal selam yaitu KRI Nagapasa (403), KRI Ardadedali (404) dan KRI Alugoro (405). Tiga kapal selam lagi di kelas ini sedang dibangun, bekerja sama dengan pembuat kapal Daewoo Shipbuilding dan Marine Engineering.


Sedangkan dua kapal selam lainnya berasal dari kelas Cakra, KRI Cakra dan KRI Naggala. Meski masih beroperasi, kedua kapal selam tersebut berusia hampir 40 tahun sejak dibangun di Jerman Timur.


Selain itu, Tedjo juga menyampaikan bahwa TNI AL juga membutuhkan sedikitnya 30 unit kapal kelas fregat dan korvet. Untuk jenis fregat, saat ini TNI AL memiliki KRI Raden Eddy Martadinata (331) dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332) di kelas Martadinata.


Sedangkan di kelas Ahmad Yani terdapat lima kapal lainnya yakni KRI Ahmad Yani (351), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354), KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355) dan KRI Karel Satsuit Tubun (356). .


Untuk jenis korvet, terdapat 10 kapal yang terbagi dalam tiga kelas yaitu kelas Diponegoro, kelas Bung Tomo dan kelas Fatahillah. Di kelas Diponegoro terdapat KRI Diponegoro (365), KRI Sultan Hasanuddin (366), KRI Sultan Iskandar Muda (367) dan KRI Frans Kaisepo (368).


Di kelas Bung Tomo terdapat tiga kapal yaitu KRI Bung Tomo (357), KRI John Lie (358) dan KRI Usman Harun (359). Tiga kapal lainnya merupakan kelas Fatahillah, yaitu KRI Fatahillah (361), KRI Malahayati (362), dan KRI Nala (363).


“Saat ini kita punya senjata strategis yaitu kapal selam. Cuma ada dua buatan 80 dan hanya dua dari Korea, dan satu akan dibuat di Indonesia. Tapi tipenya hampir sama. Namun, bukan hanya jumlah yang harus kita miliki. , tapi kapabilitasnya juga harus, ”kata Tedjo.


“Agar kita bisa mencakup seluruh wilayah, idealnya kita membutuhkan 16 kapal selam. Untuk kemampuan fregate dan korvet kita butuh sekitar 30 kapal. Namun, saat ini kita masih diperkuat dengan kapal tua Jerman Timur,” ujarnya.