Asikku88 - Pengamat politik Adi Prayitno yakin kudeta militer yang terjadi di Myanmar tidak akan terjadi di Indonesia. Ia menjelaskan, Indonesia tidak memiliki sejarah kudeta militer. Meski demikian, antisipasi tetap diperlukan.
Menurutnya, TNI atau aparat harus dijauhkan dari urusan politik. Biarkan mereka bekerja secara profesional, jaga keamanan dan ketertiban sosial.
"Tidak mungkin ada kudeta militer. Di Indonesia demokrasi sudah terkonsolidasi. Elit, pers, dan masyarakat sipil kuat," kata Adi, Selasa, 2 Februari 2021.
Adi mengatakan, ada hal penting yang harus dipikirkan negara ini, yaitu kesehatan dan krisis ekonomi. Semua pihak harus solid, jaga sikap, hentikan perkelahian, kata Adi.
Sementara itu, pengamat politik lainnya, Ujang Komarudin juga mengatakan di Indonesia tidak ada tradisi kudeta militer.
“Jika melihat kondisi politik saat ini, kudeta militer di Indonesia tidak akan terjadi. Karena TNI masih setia kepada presiden,” kata Ujang.
Namun, segala kemungkinan harus diantisipasi. Menurutnya, Presiden Joko Widodo perlu memilih sosok yang setia dan dekat untuk posisi Panglima TNI.
Ujang juga mengajak semua pihak untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
“Bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Disiplin dalam menjaga tata tertib kesehatan, agar tidak banyak anak bangsa yang menjadi korban Covid-19,” ujarnya.
Seperti diketahui, Senin dini hari, 1 Februari, pasukan militer Myanmar menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan sejumlah tokoh partai yang berkuasa di Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).
Militer mengambil alih kendali negara. Kudeta terjadi setelah ketegangan meningkat antara pemerintah sipil Suu Kyi dan militer atas sengketa hasil pemilihan.
Sejak 2011, Myanmar telah bergerak menuju pemerintahan demokratis, yang sebelumnya berada di bawah rezim militer. Aung San Suu Kyi menjadi sosok demokrasi di Tanah Air.
Pada 2015, Suu Kyi dan partainya Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) terpilih untuk memimpin negara melalui proses pemungutan suara. togel online
1 Februari, Suu Kyi seharusnya melanjutkan masa jabatan keduanya. Namun, militer mengambil alih pemerintahan dengan tuduhan kecurangan dalam pemilihan.